Showing posts with label DUNIA ISLAM : PUASA. Show all posts
Showing posts with label DUNIA ISLAM : PUASA. Show all posts

Tuesday, August 07, 2012

Memburu doa mustajab

Adakah doa anda diterima oleh Allah? Bersangka baiklah bahawa doa anda telah diterima. Namun tidak semua doa yang kita panjat akan ditunai sebagaimana yang kita kehendaki. Mungkin doa kita akan dibalas dengan pahala disyurga atau kita diselamatkan dari musibah yang akan menimpa kita. Itulah kehebatan doa seorang muslim. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud :

 “Tiada seorang muslim pun yang memohon (kepada Allah Ta’ala) dengan doa yang tidak mengandung dosa (permintaan yang haram), atau pemutusan hubungan (baik) dengan keluarga/kerabat, kecuali Allah akan memberikan baginya dengan (sebab) doa itu salah satu dari tiga perkara: [1] boleh jadi akan disegerakan pengabulan doanya, [2] atau Allah akan menyimpannya untuk kebaikan (pahala) baginya di akhirat, [3] atau akan dihindarkannya dari keburukan (bencana) yang sesuai dengannya”. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata: Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa kepada Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, “Allah lebih luas (rahmat dan kurniaanNya)”. ( Imam Ahmad disahihkan oleh al-hakim, Ibn Hajar dan al-Albaniy)

Antara usaha-usaha yang boleh dijadikan panduan agar doa kita diterima oleh Allah ialah dengan menjadikan diri kita seperti individu yang dijelaskan oleh Nabi saw :

Doa seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya

Dari Abu Darda’ Radhiyallahu’anhu, dia berkata bahwa Nabi Muhammamad Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak ada dihadapannya kecuali ada seorang malaikat yang ditugaskan berkata kepadanya:’Aamiin, dan bagimu seperti yang kau do’akan.” (HR Muslim)

Orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan senang

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.” (HR At-Tirmidzi, Dishahihkan oleh Dzahabi dan dihasankan oleh Al-albani)

Orang yang dizalimi

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 “Hati-hatilah dengan doa orang-orang yang dizalimi, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).” (HR Bukhari & Muslim)

Doa ibubapa kepada anaknya dan doa seorang musafir

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

”Tiga orang yang doanya pasti terkabullkan; doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua terhadap anaknya.” HR Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani

Doa orang yang sedang berpuasa

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, dia Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani

antara waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa dalam berdoa ialah:

Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga akhir malam terakhir, lalu berfirman: Barangsiapa yang berdoa, pasti akan Kukabulkan, barangsiapa yang memohon pasti akan Aku perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti akan Ku ampuni.” (HR Bukhari)

Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu’anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak.” (HR Ibnu Majah)

Pada akhir-akhir solat fardu (sesudah tasyahud akhir, sebelum salam)

Dari Abu Umamah Radhiyallahu’anhu, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wata’alla, beliau menjawab:

“Dipertengahan malam yang akhir dan pada setiap akhir solat fardu.” (HR At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Pada saat perang berkecamuk

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” (HR Abu Daud dishahihkan oleh Imam Nawawi dan Al-Albani)

Sesaat pada hari Jum’at

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Abul Qasim Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Jum’at ada sesaat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan dikabulkan. Beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sebentarnya waktu tersebut.” (HR Al Bukhari)

Pada waktu bangun tidur malam hari bagi orang yang bersuci dan berdzikir sebelum tidur

Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Ibnu Majah)

Diantara adzan dan iqamah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Daud, dishahihkan Al-Albani)

Pada waktu sujud dalam shalat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab doa saat itu sangat diharapkan untuk terkabul.” (HR Muslim)

Pada saat sedang turun hujan

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Dua doa yang tidak pernak ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu turun hujan.” (HR Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Pada saat ada orang yang baru saja meninggal

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam bersabda tatkala Abu Salamah sakaratul maut:

“Susungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya.” Semua keluarga berduka. Beliau bersabda:”Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengaminkan apa yang kamu ucapkan.” (HR Muslim)

Pada malam lailatul qadr

Allah Subhanahu wata’alla berfirman:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Qs Al Qadr: 3-5)

Doa pada hari Arafah

Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu’anhu dari bapaknya dari kakeknya, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah.” (HR At Tirmidzi dishahihkan Al-Albani)

Demikian himpunan beberapa hadis Nabi saw tentang kemustajaban doa. Semoga Allah memakbulkan doa-doa yang kita panjatkan.

Bagaimana memustajabkan doa Ramadan...


Doa! Semua insan inginkan agar doanya mustajab. Hidup tanpa doa adalah satu kemusnahan. Banyak perkara yang kita perlu mohon kepada Allah. Bukan sahaja nikmat atau cita-cita yang diidamkan pada masa hadapan, namun kita juga perlu memohon agar tidak dihilangkan nikmat dan cita yang telah dicapai. Insan sentiasa memerlukan Tuhan dalam hidupnya. 

Kehidupan ini jauh lebih besar dari kudrat seorang insan untuk dia mengawalnya. Betapa ramai para penguasa yang merasai diri mereka hebat, tetapi akhirnya tumbang dan tewas. Betapa canggih dan teguh kapal ‘Titanic’ yang bina, namun tenggelam selepas beberapa hari belayar. Siapakah yang menguasai alam?! Allah, Allah dan Allah. Awal dan akhir. Zahir dan batin.

Peranan Jiwa

Semakin dekat insan dengan Allah, semakin mustajab doanya. Kemustajaban doa sangat berkait dengan kekusyukan jiwa hamba yang berdoa. Semakin tertumpu perasaannya kepada kebesaran Allah, semakin pantas doanya dimustajabkan. Sebenarnya, bukannya susah untuk berdoa, tetapi yang susah ialah mencari jiwa yang khusyuk yang menyebabkan doa mustajab. Ramai orang tersalah sangka dalam hal ini. Mereka hanya tertumpu kepada waktu, ungkapan dan tempat berdoa tetapi melupai perkara asas iaitu kekhusyukan diri insan yang berdoa itu.

Maka jangan hairan jika ada insan yang tidak dimustajabkan doanya sekalipun dia berada di Mekah, ataupun berada pada bulan Ramadan. Walaupun unsur tempat yang mustajab ataupun waktu mustajab telah dipenuhi, namun dia gagal memenuhi perkara yang asasi iaitu jiwa yang khusyuk yang benar-benar memohon dengan penuh erti seorang hamba. Tumpuan perasaan kepada Tuhan dengan penuh kerendahan diri dan harapan. Jika unsur itu dipenuhi, kemudian diikuti dengan tempat ataupun waktu yang mustajab maka doa menjadi amat mustajab.

Setelah kita memahami hal ini, maka kita cuba memahami bahawa Allah menjanjikan untuk memustajabkan doa mereka yang berpuasa. Ini kerana, puasa pada bulan Ramadan dapat membentuk jiwa yang khusyuk. Ramadan pula waktu yang Allah sayang disebabkan bulan pilihanNYA dan suasana hamba-hambaNYA taat kepadaNYA. Maka Allah setelah menyebut tentang kewajiban berpuasa pada bulan Ramadan, maka Allah ikuti dengan janjiNYA di mana DIA berfirman: (maksudnya):

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka mendapat petunjuk (Surah al-Baqarah: 186).

Kesucian Nurani

Setiap manusia yang hidup pada waktu ini akan memasuki Ramadan. Muslim dan juga bukan muslim. Mereka yang berpuasa dan juga mereka yang bermaksiat. Apakah setiap orang dimustajabkan doa mereka pada bulan Ramadan? Sudah pasti bukan demikian fahaman yang betul. Doa dimustajabkan apabila insan itu berpuasa. Puasa itu mendatangkan pahala. Puasa itu juga mendidik rohani agar tunduk kepada kehendak Allah. Puasa menyuburkan keikhlasan dalam jiwa. Lantas puasa membentuk kekhusyukan yang luar biasa. Dengan itu doa orang yang berpuasa dimustajabkan.

Sesiapa yang berpuasa dalam ertikata yang sebenar akan dapat merasai perbezaan jiwanya. Lebih mendalam dia menghayati puasanya pada hati, lidah dan tingkah, maka bertambahlah kekhusyukan jiwanya. Bertambah pula sayang Allah kepadanya. Apabila dia berbuka puasa, dia telah menyempurnakan arahan Allah. Sayang Allah melimpah kepadanya. Maka Nabi s.a.w bersabda: Berdoa ketika berbuka. Ini berdasarkan hadis Nabi s.a.w.:

“Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu, doa yang tidak ditolak ketika dia berbuka”. (Riwayat Ibn Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrak, al-Baihaqi dll. Sanadnya pada nilaian hasan dan ke atas. Ahmad Syakir dalam ‘Umdah al-Tafsir menilainya sahih).

Al-Munawi menukilkan satu pendapat yang menyebut: “Dikhususkan untuk umat ini mengenai doa dalam firman Allah: (maksudnya)

“Berdoalah kepadaKU nescaya AKU mustajabkan untuk kamu” (Al-Ghafir: 60). Itu asalnya untuk para nabi. Kemudian diberikan kepada umat ini apa yang diberikan kepada para nabi a.s. Namun, urusan umat ini bercampur baur disebabkan nafsu menguasai jantung hati mereka maka ia pun terhijablah. Maka, puasa itu mencegah nafsu. Apabila seseorang meninggalkan syahwatnya, maka bersihlah jantung hatinya serta bersinarlah cahaya maka dimustajabkan doa. Maka hadis ini dan yang seumpamanya hanya untuk sesiapa yang telah menunaikan hak puasa dengan sebenarnya. Dia memelihara lidah, jiwa dan perbuatannya”. (Al-Munawi, Faidh al-Qadir 2/634, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).

Justeru, Ramadan bulan diberkati. Puasa pula menjadikan kita bersih jiwa dan nurani. Gabungan keberkatan bulan dan kebersihan jiwa menjadikan doa kita mustajab. Jika sekadar bulan yang diberkati sedangkan jiwa kita tetap kotor, maka janji Allah ini mungkin tidak untuk kita.

Sunday, August 05, 2012

Ramadan bagaikan pesta di Tanah Haram

SESAK... umat Islam berpusu-pusu mengerjakan tawaf sunat selepas solat sunat tarawih.

Bagaikan pesta. Itulah gambaran menyambut Ramadan di Tanah Haram. Baik di Mekah atau Madinah setiap inci ruang di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sentiasa dipenuhi oleh umat Islam dari serata pelosok dunia.
Semuanya berkumpul untuk beribadat kepada Allah Yang Maha Esa dalam bulan yang penuh keberkatan ini.
Pendek kata, jika lewat ke masjid, jangan harap dapat masuk ke ruang solat. Sebaliknya, solatlah di dataran putih atau kawasan luar kedua-dua masjid berkenaan.

Demikian indah dan meriahnya Ramadan di negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW dan juga di tempat baginda berhijrah dan dimakamkan di Madinah.

Kesesakan di Masjidil Haram semasa Ramadan bukanlah perkara yang luar biasa. Antara sebabnya, kebanyakan sekolah negara Islam di Asia Barat bercuti selama tiga bulan mulai Ramadan.


Kesempatan itu digunakan sepenuhnya oleh mereka menziarahi saudara mara di Mekah sekali gus beribadat di Masjidil Haram, tempat paling suci bagi umat Islam.

Sebab itu, ada antara jemaah rombongan berkata, bilangan yang ada di Mekah pada Ramadan menyamai jumlah yang menunaikan haji.

Malah, pada 10 hari terakhir Ramadan, jumlahnya dikatakan mengatasi jemaah haji dari seluruh dunia.
Demikianlah antara keberkatan hasil doa Nabi Ibrahim selepas selesai mendirikan Kaabah bersama anaknya, Nabi Ismail agar Mekah yang menempatkan Baitullah itu sentiasa dikunjungi oleh umat Islam saban masa dan ketika.
Akhirnya Nabi Ibrahim berdoa pula: "Oh Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan anak keturunanku di lembah yang tak mempunyai tumbuh-tumbuhan (Mekah), di sekitar Rumah Engkau (kaabah) yang suci. Oh Tuhan, agar mereka mendirikan sembahyang. Jadikanlah tempat ini menjadi tempat orang tawaf, iktikaf, rukuk dan sujud.

Jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka. Berilah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan (makanan dan minuman), mudah mudahan mereka menjadi orang yang bersyukur. Oh Tuhan kami, bangkitkanlah di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka, yang akan membacakan kepada mereka akan ayat-ayat-Mu, dan yang akan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, serta yang akan membersihkan mereka, kerana sesungguhnya Engkau Maha Gagah, Maha Bijaksana."

Apa tidaknya, solat di Masjidil Haram pula adalah 100,000 kali lebih baik berbanding solat di masjid lain.
Semua ini memberi semangat dan pemangkin kepada umat Islam seluruh dunia mengunjungi Baitullah dan beribadat di sana pada bulan Ramadan.

Kebanyakan jemaah datang pada waktu subuh dan terus beriktikaf sehingga berbuka puasa. Ada yang terus beriktikaf sehingga selesai solat sunat tarawih barulah kembali ke hotel atau ke rumah masing-masing.

Sepanjang beriktikaf, mereka membaca al-Quran. Penat mengaji, mereka tidur sekejap atau solat sunat. Demikianlah 'aturcara' sepanjang berada di Masjidil Haram. Tidak hairanlah, sepanjang di sini, kita boleh mengkhatamkan al-Quran sekurang-kurangnya sekali.

Perang Badar di bulan Puasa

IBADAT puasa pada bulan Ramadan diwajibkan bermula pada tahun 2 Hijrah, bersama dengan kewajipan membayar zakat.
Pada 2 Hijrah juga berlaku satu peristiwa yang amat signifikan dalam sejarah Islam. Perang Badar yang berlangsung pada 17 Ramadan adalah perang pertama di antara umat Islam dengan puak kafir musyrikin dari Mekah.
Ia berlaku di satu kawasan lembah bernama Badar yang menjadi persimpangan perjalanan kabilah-kabilah perdagangan antara Madinah, Mekah dan Syria.
Pertempuran itu melibatkan dua pihak yang saling mengenali kerana hubungan kekeluargaan dan persahabatan sebelum kedatangan Islam. Misalnya di pihak kafir musyrikin terdapat bapa saudara Rasulullah SAW, Al Abbas bin Abdul Mutallib dan anak Saidina Abu Bakar yang bernama Abdul Rahman.
Sudah tentulah faktor ini merupakan satu ujian keimanan yang amat hebat kepada orang-orang Islam yang dipimpin Rasulullah dan disertai oleh para sahabat yang ternama termasuk Abu Bakar. Bukan sahaja soal kekeluargaan dan persahabatan yang menguji keimanan, malah kekuatan dari segi bilangan perajurit dan kelengkapan yang amat kurang berbanding pasukan musyrikin juga amat mencabar keyakinan pasukan Islam.
Menurut catatan sejarah, bilangan perajurit Islam adalah antara 300 hingga 316, berbanding kira-kira 1,000 anggota pasukan musyrikin. Mereka menunggang dua ekor kuda dan 70 ekor unta secara bergilir dariMadinah. Bukan sahaja kurang dari segi keanggotaan dan kelengkapan, malah perajurit-perajurit Islam juga sedang menjalani ibadat berpuasa Ramadan yang pertama dalam hidup mereka. Namun di sebalik pelbagai kekurangan itu, mereka mempunyai satu kelebihan.
Kelebihan mereka ialah iman atau keyakinan bahawa Allah SWT akan memberikan pertolongan dan kemenangan. Sungguhpun begitu, ada juga yang asyik bertanya kepada Rasulullah: “Bila Allah akan memberikan kita kemenangan?”
Lantaran pertanyaan-pertanyaan mereka, Rasulullah berasa terdesak dan tidak henti-henti memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan kemenangan dalam peperangan yang pertama ini. Di antara kata-kata baginda dalam doanya sebelum berperang ialah “Ya Allah, andainya orang-orang Muslim tewas pada hari ini, mereka tidak akan lagi menyembah-Mu.”
Memendekkan cerita, dengan pertolongan Allah yang memerintahkan para malaikat membantu tentera Islam, mereka mencapai kemenangan. Kemenangan mereka disambut dengan takbir yang bergema lantang, syahdu dan bertali arus di Madinah apabila tibanya Aidilfitri pertama pada 1 Syawal berikutnya
Sesungguhnya semangat tentera Islam yang berperang pada bulan Ramadan dengan kekurangan serba-serbi wajar menjadi inspirasi perjuangan kepada kita umat Islam pada hari ini. Apalah sangat perjuangan kita sekadar melawan nafsu makan dan nafsu syahwat berbanding mereka yang terpaksa berjalan kaki beratus-ratus kilometer ke medan perang sambil berpuasa dan hanya mampu bergilir-gilir menunggang kuda dan unta, yang pasti amat mencabar keupayaan fizikal mereka.
Sebaliknya ramai di antara kita pada hari ini begitu mudah berasa lesu apabila tiba waktu tengah hari pada bulan Ramadan. Ada yang terus tertidur di surau atau masjid selepas menunaikan solat zohor. Malah ada yang bangun hanya apabila kedengaran azan solat Asar.
Jika ditanya, mereka ini akan memberikan pelbagai alasan. Ada yang berbangga menyatakan mereka bertadarus selepas solat terawih 20 rakaat. Ada pula yang bangun tengah malam untuk bersolat tahajud. Pendek kata, segala solat sunat mahu dilakukan sepanjang malam Ramadan kerana mahu mengejar pahala. Akibatnya apabila sampai waktu tengah hari, ramai yang tidak produktif lagi dalam urusan kerja mereka.
Ada yang tidak boleh memberikan tumpuan apabila bermesyuarat. Ada yang melakukan banyak kesilapan dalam mencatat dokumen. Malah ada yang ponteng kerja kerana tertidur di surau dari selepas solat Zohor hingga terlajak ke waktu Asar. Bukankah mereka ini sudah melanggar amanah dengan majikan mereka. Orangberiman pastinya beramanah?
Tidakkah mereka ini pernah terbaca atau mendengar hadis popular yang bermaksud: “Sesiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.”
Memang lumrah manusia mengantuk apabila kurang tidur, tetapi siapakah yang menyuruh kita berjaga sepanjang malam pada bulan Ramadan? Sebab itulah Rasulullah hanya menunaikan solat tarawih lapan rakaat secara berjemaah di masjid dan yang lebih sehingga 20 rakaat dilakukan bersendirian di rumah. Sebabnya baginda tidak mahu umatnya melakukan perkara yang mereka tidak berupaya melakukan dengan ikhlas.
Pernah baginda berpuasa tanpa berbuka sehingga keesokan harinya dan cuba diikuti oleh para sahabat. Tetapi baginda melarang dengan penjelasan bahawa beliau sentiasa “diberi makan dan minum oleh Allah.” Ertinya baginda tidak sama dengan umatnya dari banyak segi.
Mengimarah
Pada hari ini, kebanyakan masjid dan surau di bandar-bandar besar berlumba-lumba mempamerkan siapakah yang lebih hebat mengimarahkan Ramadan. Lalu dipanggil hafiz untuk menjadi imam supaya dapat khatam Quran melalui bacaan solat Tarawih. Ada juga yang dengan bangganya mengumumkan bahawa solat tarawih mereka akan dipimpin oleh imam dari Mekah. Yang tidak memperoleh hafiz akan menggunakan sebesar-besarQuran dengan kanta yang diletakkan di depan imam. Kusyukkah si imam apabila membaca dengan menatap Quran? Dan adakah kita bersolat kerana Allah atau mahu mendengar bacaan sedap imam Mekah.
Sama ada betul atau tidak, apa yang kita lakukan dalam konteks beribadat pada bulan Ramadan, boleh dicerminkan dengan memperhalusi maksud hadis nabi di atas. Kunci kepada hadis itu ialah ‘berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.’ Tidak pula disebut beserta solat Tarawih 20 rakaat atau bermakmumkan imam khatam Quran? Apakah dengan membaca surah-surah lazim yang pendek semasa solat Tarawih tidak melayakkan seseorang mendapat keampunan Allah?
Wajar difahami maksud ‘keimanan dan keikhlasan’ yang Rasulullah tegaskan dalam hadis itu. Seseorang yang melakukan ibadat dengan ikhlas tidak mengharapkan balasan daripada Allah. Kita bukan pekerja tetapi hamba kepada-Nya. Pekerja meminta upah bagi setiap yang dikerjakan, tetapi hamba melakukan segala suruhan atas dasar ketaatan atau ketakwaan, iaitu sifat-sifat orang beriman.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orangsebelum kamu agar kamu bertakwa.” – Al Baqarah 2: 183
Jauh sekali daripada hendak menunjuk-nunjuk kepada orang lain yang kita ini kuat beribadat pada bulan Ramadan. Menunjuk-nunjuk atau berlumba-lumba mempamerkan kelebihan adalah sifat riak yang Allah benci.
Maka lakukanlah puasa dan iringi dengan ibadat-ibadat sunat dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Janganlah menghitung pahala kerana itu sifat pekerja, bukannya sifat hamba. Allah menilai segala ibadat kita bukan sekadar daripada apa yang kita zahirkan, tetapi lebih kepada apa yang tersemat di hati kita. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
Bersolat Tarawihlah mengikut kemampuan dan keikhlasan, sama ada 8, 10, 12…hatta 20 rakaat. Jika tidak sempat berjemaah di masjid, lakukan di rumah bersama isteri adalah memadai. Bacalah Quran dan dalami maksudnya, bukan sekadar bertadarus tanpa memahami apa yang dibaca. Lebih baik membaca sekadar 10ayat dan menjiwai kandungannya, daripada membaca 100 ayat tanpa memahami maksudnya.
Bersedekahlah dengan ikhlas sekalipun sedikit. Sedekah RM10 bagi orang yang berpendapatan RM1,000 sebulan adalah lebih besar pahalanya daripada sumbangan RM100 seorang jutawan kerana nilai sedekahterletak pada rasa sayang dan berharganya sesuatu barang itu kepada orang yang bersedekah. Bersedekahlah dengan ikhlas sekalipun hanya RM1.
Yang paling pokok, tingkatkan kualiti rohaniah kita. Ujian sebenar ialah bagaimana kita dapat mengawal nafsu, emosi dan melawan sifat-sifat buruk mazmumah ketika diri dalam keadaan lapar, dahaga, letih dan lesu. Perbanyakkan doa memohon keampunan-Nya, minta kemaafan ibu bapa, kaum keluarga dan orang- orang di sekeliling kita. Mudah-mudahan kita akan tampil sebagai orang yang lebih beriman dan bertakwa setiap kali berakhirnya Ramadan.

Wajib ganti puasa

Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang terdahulu daripada kamu supaya kamu bertakwa.”
Sekiranya seseorang tertinggal beberapa hari puasa di bulan Ramadan, maka hendaklah dia menggantikannya sebelum tiba Ramadan yang baru.
Dalam sebuah hadis yang riwayat al-Bukhari dan Muslim, daripada Aisyah r.a berkata: “Aku masih berhutang puasa Ramadan dan aku tidak dapat menggantikannya sehingga Syaaban tiba dan itu adalah kerana sibuk melayani Rasulullah SAW.”
Menurut al-Hafiz Ibn. Hajar rhm: “Keinginan Aisyah yang tinggi untuk berpuasa pada bulan Syaaban adalah kerana syarak tidak membenarkan menangguhkan ganti puasa sehingga Ramadan yang baru tiba.
Seseorang yang melengahkan ganti puasa terbahagi kepada dua golongan. Golongan pertama, iaitu golongan yang berlengah atas alasan yang sah di sisi syarak seperti sakit yang berpanjangan. Jika keadaan ini berlaku, maka seseorang itu boleh menggantikan puasa walaupun selepas Ramadan yang kedua.
Golongan yang kedua pula adalah golongan yang tidak mempunyai alasan untuk melengahkan perkara itu.
Contohnya, dia berupaya menggantikan puasa tetapi tidak melakukannya sebelum Ramadan baru bermula dengan sengaja.
Golongan kedua ini berdosa kerana gagal menggantikan puasa tanpa alasan yang sah. Kalangan ulama bersepakat bahawa dia hendaklah menggantikan puasa.
Namun mereka berbeza pandangan sama ada dia kena menggantikan puasa di samping membayar fidyah atau tidak.
Imam Malik, Syafi’I dan Ahmad berpendapat bahawa mesti membayar fidyah di samping menggantikan puasa. Pandangan ini berdasarkan riwayat daripada beberapa orang sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Abbas RHM.
Imam Abu Hanifah pula berpendapat bahawa tidak perlu membayar fidyah. Cukup hanya menggantikan puasa. Ini berdasarkan firman Allah SWT yang memerintahkan agar orang yang tidak berpuasa, hendaklah menggantikannya sebagai dalil. Ayat ini tidak menyebutkan tentang pembayaran fidyah kepada orang miskin. Itulah pendapat yang dipegang beliau.
Imam al-Bukhari RHM. memilih pandangan yang kedua. Beliau berkata dalam kitabnya Sahih al-Jami’: “Ibrahim al-Nakha’i berkata bahawa jika seseorang lalai (tidak menggantikan puasa yang ditinggalkan) sehinggaRamadan baru, dia hendaklah menggantikan hari-hari yang tertinggal bagi kedua-dua tahun. Tetapi dia tidak berpendapat perlunya membayar fidyah bagi setiap hari yang tertinggal.
Ada juga petikan mursal daripada Abu Hurairah dan ibnu Abbas yang berkata bahawa dia perlu membayarfidyah.
Kemudian Imam al-Bukhari menyebut: “Tetapi Allah tidak menyebut mengenai membayar fidyah kepada orangmiskin (melalui firman-Nya).”
Oleh itu, apa yang wajib ialah menggantikan puasa saja tetapi jika seseorang ingin lebih selamat denganmembayar fidyah di samping menggantikan puasa, itu lebih baik.
Jika anda melambatkan ganti puasa tanpa sebarang alasan, anda hendaklah bertaubat kepada Allah dan bertekad tidak akan mengulangi kesilapan ini akan datang. Demikianlah, wallahua’lam.

Niat puasa Ramadan

Berikut ada lafaz niat berpuasa di bulan Ramadhan harian, niat berpuasa sebulan Ramadhan, doa berbuka puasa dan doa selepas buka puasa.
NIAT PUASA RAMADHAN (HARIAN)
niat%2Bpuasa%2Bharian%2Bniat%2Bpuasa%2Bsetiap%2Bhari Niat Puasa RamadhanSahaja aku berpuasa esok hari menunaikan Fardhu Ramadhan tahun ini kerana Allah Ta’ala
NIAT PUASA SEBULAN RAMADHAN
niat%2Bpuasa%2Bsebulan%2Bniat%2Bsebulan%2Bpuasa Niat Puasa RamadhanSahaja aku berpuasa keseluruhan bulan Ramadhan kerana Allah Ta”ala
DOA BERBUKA PUASA
boa%2Bbuka%2Bpuasa Niat Puasa RamadhanYa Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau beriman aku dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.
DOA SELEPAS BERBUKA PUASA
doa%2Bselepas%2Bbuka%2Bpuasa%2Bdoa%2Bsesudah%2Bberbuka%2Bpuasa Niat Puasa RamadhanYa Allah! Kerana Engkau aku berbuka puasa dan kepada Engkau aku beriman dan atas rezeki dari Engkau aku berbuka puasa telah hilang dahaga sudah menjadi basah segala urat. Ya Allah! Aku minta diampuni dosaku dengan rahmat Engkau yang meliputi segala sesuatu.
Sambutlah kedatangan Ramadhan dengan berdoa kepadaNya dengan tulus ikhlas:
“Dengan nama Allah yang maha pemurah dan penyayang. Segala puja dan puji bagi Allah yang telah memuliakan akan kami dengan naungan bulan Ramadhan, yang turun padanya malaikat-malaikat dan roh-roh yang mulia selawat dan salam atas junjungan kami Muhammad dan atas keluarga dan sahabat yang mulia, kami mohon kepadamu ya Allah, pemeliharaan keamanan memasuki bulan Ramadhan dan tetapkanlah kami berpuasa Ramadhan, rahmatilah kami dan berkatilah dalam berpuasa Ramadhan, dan perbaikilah segala keadaan kami dan akhlak kami dan sekalian amal kami dalam bulan Ramadhan, ya Allah lanjutkan usiakami ini dengan berkat Ramadhan dan jadikanlah puasa kami ini mengikut segala puasa yang dipuasakan oleh nabi kami Muhammad s.a.w dengan rahmatMu ya Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Kesejahteraan dan keselamatan atas Nabi Muhammad dan segala puja dan puji bagi Allah tuhan seru sekalian alam”.
Mudah-mudahan, dapatlah kita sama-sama menghayati bulan Ramadhan bulan yang penuh keberkatan ini, dan menjalani Ramadhan kali ini lebih baik dan penuh makna, berbanding tahun-tahun sudah. Amin...

Puasa cara Rasulullah SAW

Para muslimin dan muslimat yang dihormati Allah, Ramadhan yang kita nanti-nantikan telah tiba untuk sekali lagi kita berada di dalamnya.
Ini tanda Allah masih sayang kepada hamba-hambanya dengan memberi sekali lagi peluang untuk kita bertemu dengan bulan yang penuh keberkatan ini.
Berpuasa adalah aktiviti terpenting dalam bulan ini. Persoalannya bagaimana tips-tips yang diajar oleh Rasulullah s.a.w untuk puasa kita dinilai tinggi oleh Allah? Mari kita telusuri satu persatu.
Rasulullah s.a.w Bersahur
Rasulullah menganjurkan kita untuk bersahur sebelum aktiviti menahan diri dari makan dan minum di siang hari dimulakan. Bagaimana Rasulullah s.a.w bersahur? Bersahur bukanlah dilakukan ditengah malam, tetapi ia dilakukan di awal pagi, iaitu waktu yang sangat hampir dengan waktu solat subuh. Bersahur juga memberi kesegaran untuk kita menghabiskan hari siang kita dengan berpuasa. Rasulullah s.a.w bersabda:
Dari Anas Bin Malik r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Bersahurlah kerana pada sahur itu terdapat keberkatan.
(HR: al-Bukhari)
Rasulullah s.a.w juga menekankan kepada kita untuk bangun bersahur kerana ia adalah salah satu dari ciri-ciri bersahur orang Islam. Sabdanya:
Perbezaan antara puasa kami dengan puasa ahlu al-Kitab adalah makan sahur
(HR: Muslim)
Rasulullah Menyegerakan Berbuka
Tidak melewat-lewatkan berbuka puasa adalah salah satu tips berpuasa yang di ajar oleh Rasulullah. Ini kerana, perbuatan itu sangat mendatangkan kebaikan untuk mereka yang menahan diri dari makan dan minum.
Rasulullah s.a.w di dalam hadithnya menerangkan kepada kita seperti mana yang dilaporkan oleh al-Bukhari &Muslim:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ ”
Manusia itu akan terus berada dalam kebaikan selagi mana dia menyegerakan berbuka puasa.
Perbuatan melambat-lambatkan berpuasa puasa adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w. Masyarakat kita sering melihat perkara ini sebagai satu isu remeh. Apa yang terjadi dalam rata-rata masyarakat kita di Malaysia, ketika masuknya waktu solat maghrib (waktu untuk berbuka puasa), mereka masih lagi berada di bazar-bazar ramadhan untuk membeli juadah mereka.
Penjual juga masih lagi melayan pelanggan tanpa terus berbuka walaupun azan maghrib telah berkumandang. Ibu-ibu di rumah pula masih berada di dapur menyiapkan juadah berbuka puasa ketika azan maghrib bergema. Ini kerana melewat-lewatkan berbuka puasa adalah amalan Yahudi dan Kristian.
Persiapan seharusnya dilakukan dengan segera agar seruan Rasulullah s.a.w untuk kebaikan umatnya dapat diamalkan sebaiknya. Rasulullah telah bersabda di dalam satu hadithnya yang dilaporkan oleh Abu Daud & Ibn Majah yang sanadnya berstatus hasan seperti yang dinilai oleh al-Albani r.h:
قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون ”
Agama ini akan sentiasa zahir (jelas) selagi mana umatnya menyegerakan berbuka puasa, ini kerana orang-orang Yahudi dan Kristian, mereka melewat-lewatkannya.
Dikeluarkan dari Musannaf Abdul Razzak dan Fathul Bari (kitab syarah sahih al-Bukhari) ‘Amr Bin Maimun r.h berkata:
وقال عمرو بن ميمون الأودي رحمه الله : ” كان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أسرع الناس إفطارا ًوأبطأهم سحوراً ”
Sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling cepat (ketika) berbuka puasa dan yang palinglewat (ketika) bersahur.
وعَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ :
دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ : رَجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ، وَالآخَرُ يُؤَخِّرُ الإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلاةَ ..
قَالَتْ : أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ؟
قَالَ قُلْنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ .
قَالَتْ كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abi ‘Atiyyah katanya: Aku dan Masruq telah bertemu Ummu al-Mu’minin r.anha dan kami berkata kepadanya: “Dua orang lelaki dari sahabat Muhammad s.a.w, salah seorang darinya mempercepatkan berbuka dan mempercepatkan solat, manakala seorang lagi melewatkan berbuka dan melewatkan bersolat…” Ummu al-Mu’minin berkata: “Siapakah diantara mereka berdua yang mempercepatkan berbuka dan menyegerakan bersolat?” Kami berkata: “Abullah iaitu Ibn Mas’ud.” Kata (Ummu al-Mu’minin): “Perbuatan (menyegerakan berbuka) Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w”.
Berbuka Dengan Beberapa Biji Kurma
Antara kaedah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w adalah memulakan memakan beberapa biji kurma basah ketika berbuka puasa. Ini untuk memudahkan dirinya bersolat dalam keadaan tidak terlalu kenyang. Pernah diriwayatkan dari Anas Bin Malik, seperti yang dilaporkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi katanya:
Rasulullah s.a.w apabila baginda berbuka puasa, baginda berbuka dengan beberapa biji kurma basah sebelum solat. Jika tiada kurma basah, baginda berbuka dgn kurma kering. Jika tiada kurma kering, baginda berbuka dengan beberapa teguk air.
Ini adalah sunnah Rasulullah s.a.w. Ramai diantara kita yang sering meninggalkan sunnah ini. Mereka menyegerakan berbuka puasa serta makan dan minum sehingga kekenyangan lalu melewatkan bersolat maghrib. Rasulullah makan dengan beberapa biji kurma, kemudian bersolat. Apabila Rasulullah s.a.w terasa lapar, Rasulullah s.a.w makan selepas baginda solat.
Tidur Qailulah
Nabi s.a.w mengajarkan kepada kita agar sentiasa cergas ketika berpuasa di siang hari dan bersemangat melakukan amal ibadat di malamnya. Antara kaedah yang diajar oleh Rasulullah s.a.w adalah dengan tidur sebentar sebelum solat zohor, perbuatan itu dinamakan dengan Qailulah. Ini untuk memudahkan kita bangun di waktu malam mengerjakan amal ibadat.
Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Ibn Majah:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ” اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ وَبِالْقَيْلُولَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ “
Dari Ibnu Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w telah bersabda; Carilah kekuatan melalui sahur untuk puasa keesokan hari dan melalui Qailulah (tidur sekejap sebelum Zohor) untuk mendirikan ibadah malam.
Apa yang terjadi hari ini pada sesetengah masyarakat kita, mereka tidak menerapkan sunnah ini bahkan perbuatan mereka menyalahi sunnah ini. Mereka terutama anak-anak muda menghabiskan waktu siangnya dengan tidur sepanjang hari dan hanya bangun untuk berbuka puasa sahaja.
Berpuasa bukanlah bulan tidur kerana keletihan. Puasa adalah bulan untuk melakukan seberapa banyak amalan sunnah kerana padanya pahala dilipatgandakan.
Menjaga Lidah
Terlalu rugi jika kita berpuasa, tetapi tidak mendapat sedikitpun pahala dari amalan tersebut. Akibatnya, kita hanya mendapat lapar dan dahaga. Antara faktor berlaku kerugian rohani tersebut adalah kerana tidak menjaga lidah. Mengumpat, mencaci, mengeluarkan kata-kata kesat dan lucah, mengadu domba, banyak bercakap, berbohong, menyanyi lagu-lagu yang lagha juga dilakukan ketika berpuasa.
Umumnya perbuatan ini adalah perbuatan haram untuk dilakukan walaupun bukan pada bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w bersabda dalam sepotong hadith yang dilaporkan oleh Ahmad dan al-Tabarani:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ , وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
Ramai orang puasa, tetapi balasannya hanya lapar dan dahaga (tiada pahala) dan ramai orang berjaga malam (beribadah) balasannya hanyalah mengantuk (tiada pahala)
Rasulullah s.a.w bersabda lagi dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Imam al-Bukhari:
وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Apabila seseorang daripada kamu berada dalam hari puasa, maka janganlah ia memaki dan mengherdik orang lain. Andainya ia dicela oleh seseorang atau dimusuhi, hendaklah ia berkata “Saya berpuasa”.
Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda lagi sepertimana yang dilaporkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasaie dan Ibn Majah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda : Sesiapa yang tidak menghentikan percakapan dusta dan terus melakukannya, Maka Allah s.w.t tidak mempunyai hajat pada orang tersebut untuk dia meninggalkan makan minumnya.
Memberi Makan Orang Yang Berpuasa
Antara amalan dan tips yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk meningkat neraca kita adalah dengan cara menginfaqkan sedikit harta dengan menyediakan juadah berbuka puasa untuk mereka-mereka yang berpuasa. Terlalu besar ganjarannya seperti yang diberitahu Rasulullah di dalam hadith-hadith baginda yang mulia. Antaranya ialah seperti yang dilaporkan oleh Tirmidzi dan Ibn Majah:
Sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka puasa), dia akan mendapat balasan pahala yang sama seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangkan sedikitpun daripadanya
Bagi mereka yang dijemput untuk berbuka puasa bersama, wajib baginya untuk memenuhi undangan tersebut. Ini kerana, perbuatan membelakangi undangan tersebut dicela oleh Rasulullah dan ianya seolah-olah telah menentang Rasulullah s.a.w.
Adalah sunnah mereka yang dijemput untuk berbuka puasa mendoakan orang yang menjemput dengan doa-doa yang baik setelah selesai berbuka puasa. Antara doa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w adalah seperti berikut:
1. Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan, dan berilah minum orang yang memberiku minum (riwayat Muslim).
2. Ya Allah, Ampunkanlah mereka, rahmatilah mereka dan berkatilah apa yang telah kau rezekikan kepada mereka (riwayat Muslim).
Doa Ketika Berbuka Puasa
Nabi s.a.w memberitahu kepada kita bahawa berdoa ketika berbuka puasa adalah mustajab berdasarkan hadith-hadith sahih yang warid dari baginda s.a.w.
Kita disyorkan untuk berdoa apa sahaja yang kita ingini ketika menunggu waktu tersebut. Rasulullah s.a.w bersabda seperti yang dilaporkan Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban:
إبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ثلاثه لاترد دعوتهم : الأمام العادل , والصائم حتى يفطر , ودعوة المظلوم…
Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, dan doa mereka yang dizalimi…
Rasulullah s.a.w juga mengajarkan cara berdoa ketika berbuka puasa. Berikut adalah doa yang baik untuk dibacakan oleh kita sebagai memenuhi tuntutan ittiba’ al-Sunnah. Imam al-Darulqutni menilai sanad hadith ini sebagai hasan. Doa tersebut adalah:
ذهب الظماء وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله تعالى
Telah hilang kehausan, telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala-pahala insyaAllah.
Marilah sama-sama kita berpuasa sepertimana puasanya Rasulullah s.a.w dan para sahabat yang mulia. Semoga puasa kita pada tahun ini mampu mengubah dimensi hidup kita yang bercerminkan sunnah Rasulullah dalam beribadat.
Perbanyakkanlah membaca al-Quran dan berzikir, nasihat menasihati serta berdakwah kepada Islam. Jadikan ramadhan kali ini penuh makna untuk diri kita dan masyarakat. Wallahu A’lam.
 

Designed by Tempah Blog Template By productivedreams © 2012